Jon Macy mungkin bukan nama yang familiar di industri startup Indonesia. Tapi, filosofi bisnisnya yang unik bisa menjadi bahan renungan bagi para CFO muda yang sedang berjuang menyeimbangkan ambisi founder dengan realitas keuangan perusahaan. Bayangkan ini: seorang CFO yang lebih mirip seniman daripada akuntan tradisional.
Macy percaya bahwa angka-angka di spreadsheet bukan sekadar data mati. Mereka punya jiwa. “Setiap angka punya cerita,” katanya dalam sebuah wawancara. Filosofi ini mungkin terdengar agak abstrak, tapi membawa dampak nyata dalam cara dia menjalankan peran CFO di berbagai startup. Misalnya, saat menghadapi founder yang terlalu ambisius, Macy tidak langsung bilang “tidak.” Dia malah bikin cerita dari angka-angka itu.
Mengubah Beban Jadi Keajaiban
Ada satu kasus menarik waktu Macy jadi CFO di startup logistik. Founder ingin ekspansi besar-besaran padahal kas cuma cukup buat operasional 6 bulan. Daripada bilang “ini gila,” Macy bikin simulasi keuangan dengan skenario terburuk: apa yang terjadi kalau ekspansi gagal total? Tapi dia sajikan data itu dengan cara yang beda.
Dia bikin visualisasi mirip grafiti di dinding kantor, lengkap dengan dampaknya ke tim, klien, bahkan keluarga karyawan. Founder langsung mikir dua kali. “Ini bukan soal angka semata, tapi nyawa-nyawa yang terikat dalam keputusan kita,” cerita Macy. Hasilnya? Founder setuju untuk ekspansi bertahap yang lebih realistis.
Macy juga punya pendekatan kreatif dalam berurusan dengan investor. Dia pernah bikin laporan keuangan berbentuk cerita bergambar untuk investor yang lebih seneng gambar daripada tabel. “Kalau kita bisa mengkomunikasikan angka dengan bahasa yang dipahami oleh berbagai pihak, kita sudah mengurangi potensi konflik,” katanya.
Tapi filosofi Jon Macy ini bukan tanpa kritik. Beberapa koleganya bilang ini terlalu filosofis dan kurang praktis. Tapi Macy nggak ambil pusing. “Keuangan itu seperti musik. Kalau terlalu kaku, hilanglah keindahannya.” Mungkin ini yang bikin dia selalu bisa menjaga hubungan baik dengan founder, investor, bahkan kreditur sekalipun.
Kuncinya? Menurut Macy, CFO harus bisa jadi penjaga gawang sekaligus pendongeng. “Kita bukan hanya mengawasi keuangan, tapi juga menciptakan narasi yang membuat semua pihak memahami risiko dan peluang dengan cara mereka masing-masing.” Jadi, siapa bilang CFO cuma tugasnya ngurusi angka?