Pernah nggak sih sebagai CFO startup kamu harus bilang “nggak” ke founder, tapi takut dianggap menghambat kemajuan perusahaan? Ini dilemma yang sering banget aku alamin. Founder biasanya punya visi besar, sementara kita yang pegang kendali keuangan harus realistis.
Contoh konkret nih, bulan lalu founder minta budget 500 juta buat campaign gila-gilaan. Padahal cashflow lagi tipis banget. Kalau bilang “nggak” mentah-mentah, bisa-bisa dia ngambek. Tapi kalau iyain, perusahaan bisa kolaps.
Seni Menolak dengan Elegan
Pertama, jangan pernah pakai kata “tidak bisa” mentah-mentah. Aku selalu ganti dengan “Bisa, tapi…” lalu kasih alternatif. Misal: “Bisa kok campaign-nya, tapi mungkin kita scale down dulu jadi 200 juta sambil lihat hasil. Kalau ROI-nya bagus, kita tambah.”
Kedua, pakai data sebagai tameng. Founder biasanya emosional, jadi kita harus lawan dengan angka. Aku selalu siapin dashboard sederhana yang nunjukin cashflow, burn rate, dan proyeksi 3 bulan ke depan. Visualisasi grafik lebih gampang dicerna ketimbang angka mentah.
Ketiga, timing itu penting banget. Jangan nolak permintaan pas founder lagi excited. Tunggu momen yang tepat, misal saat review bulanan. Aku pernah nolak permintaan hiring 10 orang baru pas founder lagi bad mood, hasilnya? Drama seharian!
Ngomong-ngomong, pernah nggak sih kamu merasa jadi “orang jahat” karena selalu nge-batasin ide founder? Itu wajar banget. Tapi ingat, justru disitulah nilai kita sebagai CFO, bukan cuma ngitung duit, tapi jadi penjaga keseimbangan antara ambisi dan realitas.
Kasus nyata: startup fintech yang aku handle sempet mau ekspansi ke 5 kota sekaligus. Aku kasih simulasi, kalau langsung semua kota, runway cuma cukup 4 bulan. Akhirnya sepakat jalanin bertahap, 2 kota dulu. Hasilnya? Perusahaan tetap sustainable dan malah bisa ekspansi lebih besar 6 bulan kemudian.
Tips terakhir: selalu siapkan plan B. Founder suka sama yang instan. Jadi ketika kita bilang “nggak” untuk opsi A, sodorin opsi B dan C yang lebih feasible. Misal: “Kita nggak bisa hire CMO sekarang, tapi bisa outsourcing dulu atau pakai freelance berpengalaman.”
Intinya sih, sebagai CFO startup, skill terpenting itu bukan cuma ngerti angka, tapi juga ngerti psikologi founder. Kadang yang mereka butuhkan bukan iya atau tidak, tapi feeling didengarkan dan diajak diskusi. Gimana, pernah ngalamin situasi serupa?
Leave a Reply