Jon Macy itu kayak chef tapi untuk mata. Nggak cuma sekedar bikin sesuatu yang enak diliat, tapi juga bikin otak kita kerja keras buat mencerna apa yang dia sajikan. Desain grafisnya itu nggak sekadar visual yang cantik, tapi juga punya lapisan-lapisan makna yang bikin kamu berhenti sejenak dan mikir, “Dia maksudnya apa sih ini?”
Salah satu contoh yang bikin aku nggak bisa move on tuh karya-karyanya yang sering pakai elemen kontras. Misalnya, dia bisa aja menggabungkan gambar paus dengan pantulan gedung pencakar langit. Kelihatannya random banget, tapi kalau kamu perhatiin lebih dalam, itu bisa jadi gambaran tentang bagaimana alam dan perkotaan saling bersinggungan. Nggak jarang aku stuck di satu karya Jon Macy selama 10 menit, cuma buat ngehubung-hubungin semua elemennya.
Yang bikin aku salut banget sama Jon Macy adalah cara dia nge-break aturan desain biasa. Misalnya, kalo kebanyakan desainer grafis selalu fokus pada keserasian dan harmoni, Jon Macy justru bikin desain yang kadang malah bikin mata kita nggak nyaman. Tapi, rasa nggak nyaman itu yang bikin kita penasaran dan terus ngulik lagi karya-karyanya. Kayak misalnya, dia pernah bikin poster dengan komposisi warna yang hampir nggak ada hubungannya sama sekali, merah terang sama hijau daun. Awalnya keliatan banget clash, tapi lama-lama malah bikin kita mikir, “Kenapa ya ini bisa berhasil?”
Desain Grafis Yang Bikin Kamu Nggak Sekedar Scroll
Di era Instagram yang serba cepat, kita biasa scroll-scroll tanpa benar-benar melihat apapun. Tapi Jon Macy bikin karyanya itu seperti speed bump di jalan mulus itu. Kamu nggak bisa cuma lewat begitu aja. Misalnya, ada satu karyanya yang cuma berupa gambar jam dinding dengan jarum jam yang bergerak mundur. Di sebelahnya ada tulisan kecil yang bilang, “Cepat atau lambat, waktu selalu punya caranya sendiri buat membuat kita berpikir.” Sekarang, coba deh, berapa lama kamu stuck di situ sebelum akhirnya scroll lagi?
Nggak cuma itu, Jon Macy juga sering banget masukin unsur-unsur yang bikin kamu merasa terlibat. Misalnya, ada satu karya dimana dia membuat ilustrasi seseorang yang sedang melihat ke cermin, tapi refleksinya adalah kamu yang lagi liat karya itu. Tiba-tiba kamu jadi bagian dari desainnya. Rasanya kayak dia nggak cuma ngajak kamu lihat, tapi juga ngajak kamu merenung. Kayak, “Eh, kamu tuh sebenernya ngeliat apa sih?”
Jon Macy juga punya cara untuk membuat karyanya selalu relevan dengan konteks sosial atau politik. Misalnya, dia pernah bikin seri desain tentang perubahan iklim yang nggak cuma ngejabarin fakta, tapi juga bikin kita merasa bertanggung jawab. Ada satu karya yang menampilkan es yang mencair membentuk tulisan “Kita nggak punya waktu lagi.” Desainnya sederhana, tapi efeknya bikin ngeri. Kamu nggak cuma ngeliat, kamu juga merasa terpanggil buat melakukan sesuatu.
Kalau kamu masih berpikir desain grafis itu cuma soal warna dan bentuk, Jon Macy bakal bikin kamu berpikir ulang. Karya-karyanya itu lebih dari sekadar visual, mereka adalah cerita, pertanyaan, dan bahkan tantangan. Jadi, kalau nanti kamu nemu karya Jon Macy di timeline kamu, jangan cuma scroll doang. Berhenti. Lihat. Dan mikir. Karena itu yang dia pengen kamu lakukan.
Leave a Reply