Jon Macy: Desainer Grafis yang Nggak Cuma Bikin Bagus, Tapi Juga Bikin Ketagihan

Pernah lihat desain grafis yang bikin kamu nggak cuma scroll lewat, tapi langsung berhenti dan ngerasain sesuatu? Itulah daya magis Jon Macy. Desainernya satu ini nggak cuma jago dalam teknis, tapi juga paham gimana caranya nyelipkan emosi dalam setiap karyanya.

Apa sih rahasianya? Ternyata Jon selalu mulai dengan pertanyaan: “Apa yang mau aku bikin orang rasain pas liat ini?” Bukan sekadar warna yang matching atau typography yang rapi. Dia ngejar reaksi visceral, bikin mata melek, jantung berdebar, atau jari refleks screenshot.

Dari Angka Jadi Emosi

Lo bakal kaget waktu Jon cerita gimana dia ngolah data jadi desain yang nyentuh. Misal proyek terbarunya buat kampanye donasi pendidikan. Daripada sekedar nampilin angka “2 juta anak putus sekolah”, dia bikin ilustrasi 2 juta pensil patah yang berserakan. Tiba-tiba statistik nggak lagi jadi deretan digit, tapi sesuatu yang nyata di depan mata.

Teknik favoritnya? “Surprise element”. Di tengah-tengah layout yang rapi, tiba-tiba ada satu elemen yang nyeleneh. Bisa font yang meledak-ledak di antara sans-serif, atau foto dokumenter hitam putih di tengah ilustrasi warna-warni. Itu yang bikin desainnya nempel di kepala orang.

Masih inget desain poster konsernya band indie tahun lalu yang rame banget di medsos? Jon sengaja bikin typography utama “ANGKOT” (nama band) dengan font mirip stiker angkot beneran. Auto nostalgic buat generasi 90an. Bukan cuma orang datang ke konser, mereka dateng bawa kenangan masa kecil.

Jon juga hobi nge-break aturan. “Desain yang terlalu sempurna itu boring,” katanya sambil ketawa. Itu sebabnya di portfolio-nya ada logo dengan sedikit ‘cacat’ yang disengaja, atau layout yang sengaja dibuat agak miring. Justru kekurangan terkontrol ini yang bikin karyanya manusiawi.

Hal paling keren dari Jon? Dia nggak cuma bikin desain, tapi juga bikin orang bertindak. Setelah lihat poster buatannya, orang nggak cuma bilang “wah keren”, tapi langsung cari tiket atau buka link donasi. Karena bagi Jon, desain grafis yang bagus itu harus punya kaki buat jalan, bukan cuma cantik diam di tempat.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *