CFO Startup: Cara Bedain Antara Ide Gila yang Brilliant dan yang Bener-Bener Gila

Jadi CFO startup itu kayak jadi penjaga gawang di pertandingan sepak bola antara visi founder dan realitas keuangan. Kadang, founder datang dengan ide yang terdengar gila. Ada yang brilliant, ada juga yang bener-bener… well, gila-gila aja. Gimana caranya bedain? Ini tipsnya biar nggak salah ambil keputusan.

Pertama, kenali pola pikir sang founder. Founder yang punya track record bagus biasanya punya insting tajam. Misalnya, pernah ngasih ide yang awalnya terdengar nggak masuk akal, tapi akhirnya sukses besar. Kalau gitu, jangan langsung dicap “gila”. Coba telusuri lagi. Apa ada data atau tren yang bisa mendukung ide ini? Atau mungkin founder lagi melihat sesuatu yang belum terlihat oleh orang lain.

Tapi, bukan berarti semua ide founder harus langsung diiyain. Ada juga ide yang bener-bener ngawur. Misalnya, mau masukin startup ke pasar yang udah oversaturated atau produk yang jelas-jelas nggak sesuai dengan core business. Di sini, tugas CFO adalah jadi “penyeimbang”.

Praktiknya Gimana?

Contoh kasus: founder ngomong mau masukin startup ke industri es krim karena lagi trending. Wah, ini ide yang… hmm, rada nggak nyambung. Apa yang harus dilakukan? Jangan langsung bilang “nggak bisa”. Tanya dulu: “Kenapa es krim? Apa kita punya kompetensi di situ?” Lalu, ajak founder ngobrol soal data. Misalnya, tunjukkan angka bahwa pasar es krim memang lagi naik, tapi persaingannya ketat banget. Biarkan founder yang mikir lagi.

Kedua, pakai frame waktu yang realistis. Ide brillian biasanya punya timing yang tepat. Misalnya, masukin AI ke aplikasi kita sekarang mungkin terdengar gila, tapi lima tahun lagi siapa tahu jadi yang terdepan. Tapi kalau ide itu jelas nggak mungkin terjadi dalam waktu dekat, ya mungkin emang bener-bener gila.

Terakhir, jangan lupa ngobrol sama tim lain. Marketing, product, bahkan customer support bisa kasih perspektif berbeda. Misalnya, tim marketing mungkin bilang, “Bisnis es krim itu bagus, tapi brand kita belum ada positioning yang kuat di situ.” Nah, ini bisa jadi bahan diskusi sama founder.

Intinya, bedain ide gila yang brillian dan yang bener-bener gila itu soal balance. Jangan terlalu cepat bilang “gila” atau “brillian”. Cari data, ajak diskusi, dan tetep terbuka sama kemungkinan. Siapa tahu, ide yang tadinya terdengar gila itu justru jadi breakthrough besar buat startup kita.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *