Sebagai CFO di startup, salah satu tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara ambisi founder dan kenyataan keuangan. Kita semua tahu founder sering punya visi besar, tapi kadang perlu disentil biar nggak terlalu melambung. Nah, pertanyaannya: gimana sih cara ngasih tahu founder kapan saatnya bilang “stop”?
Pertama, penting banget buat ngerti apa yang bikin founder bisa terlalu ambisius. Biasanya ini karena mereka terlalu fokus sama target pertumbuhan atau market share, tapi lupa sama risiko finansial. Misalnya, founder pengen ekspansi ke pasar baru padahal kas perusahaan lagi tipis. Atau mereka maksain produk baru tapi belum ada dana cukup buat riset dan pengembangan. Ini yang bikin CFO harus waspada.
Nah, sebagai CFO, tugas kita bukan cuma ngelaporkan angka-angka. Kita juga harus jadi suara penyeimbang. Tapi inget, ngasih tahu founder buat berhenti nggak harus langsung frontal. Bisa dimulai dengan ngasih data konkret. Misalnya, tunjukkan cash flow bulanan, proyeksi risiko, atau analisis dampak keuangan kalo ekspansi dipaksain. Dengan begitu, founder bisa liat sendiri kenapa langkah itu berisiko.
Kasus nyata yang sering terjadi adalah founder pengen ngajuin pinjaman besar buat ekspansi cepat. Di sini, CFO harus ngasih tahu bahwa utang yang terlalu besar bisa bikin perusahaan kelimpungan di masa depan. Misalnya, kasus startup yang akhirnya bangkrut karena terlilit utang gara-gara ekspansi terlalu cepat. Bisa deh dibawa ngobrol santai, kayak “Nih, kita liat dulu proyeksi kita. Kalo pinjem sekarang, bunga bakal makan berapa? Bisa nggak kita bayar?”
Tapi, cara ini nggak selalu berhasil. Kadang founder tetap ngotot karena yakin visinya bakal sukses. Di situasi kayak gini, CFO harus lebih tegas. Bilangin bahwa keputusan ini bisa bikin perusahaan jatuh kalo nggak diantisipasi dengan baik. Jangan takut bilang “nope” kalo memang perlu. Contohnya, kasus di mana CFO berhasil ngelindungi perusahaan dari kebangkrutan dengan menolak ekspansi yang terlalu berisiko.
Yang nggak kalah penting, CFO harus selalu ngomong dengan bahasa yang mudah dimengerti founder. Jangan terlalu teknis atau pakai jargon keuangan yang ribet. Lebih baik kasih contoh konkret atau analogi yang relate sama kondisi perusahaan. Contoh, “Kalo kita mau ekspansi sekarang, kayak nyebrang sungai tanpa perahu. Mungkin selamat, tapi bisa juga tenggelam.”
Terakhir, bangun komunikasi terbuka sama founder. Jangan tunggu masalah besar baru ngomong. Rutin lah ngobrol tentang kondisi keuangan perusahaan, risiko, dan opsi yang ada. Dengan begitu, founder bisa lebih ngerti kenapa CFO perlu ngasih batasan.
Jadi, sebagai CFO, tugas kita bukan cuma ngitung duit, tapi juga jadi penjaga stabilitas keuangan perusahaan. Kalo founder terlalu ambisius, ingatlah bahwa bilang “stop” bukan berarti menghambat pertumbuhan, tapi justru melindungi masa depan perusahaan. Gimana, pernah ngalamin situasi kayak gini? Share dong pengalaman kalian!
Leave a Reply