Jon Macy: Membangun Ketahanan Mental Sebagai CFO Startup di Tengah Tekanan Ekstrem

Jadi CFO startup itu kayak jadi pemadam kebakaran yang harus siap ditelepon jam 2 pagi. Nggak cuma ngurusin angka, tapi juga harus siap hadapi tekanan dari berbagai pihak: founder yang kebanyakan mimpi, investor yang maunya ROI cepat, dan karyawan yang nuntut kenaikan gaji. Jon Macy, melalui pengalamannya di berbagai startup, punya cara unik untuk bertahan di tengah badai ini.

Pertama, Jon selalu ngomong soal “mental resilience” atau ketahanan mental. “Lu nggak bisa jadi CFO kalau mentalnya kayak wafer,” katanya suatu kali. Bayangin aja, harus jelasin ke founder kenapa dana lagi minus padahal mereka pengen ekspansi besar-besaran. Atau harus sanggah investor yang tiba-tiba minta laporan keuangan lengkap dalam 2 jam. Ini semua butuh mental yang super kuat.

Jon juga punya prinsip: “Always prepare for the worst.” Dia selalu punya beberapa skenario cadangan. Misalnya, kalau pendanaan terlambat, apa yang harus dilakukan? Kalau ada karyawan kunci yang resign, bagaimana cara mengatasinya tanpa bikin perusahaan kelimpungan? “CFO itu kayak kiper sepakbola. Lu harus siap untuk segala kemungkinan,” ujarnya.

Salah satu trik Jon yang paling sering diceritakan adalah teknik “time-out”. Ketika tekanan udah mulai bikin pusing tujuh keliling, Jon selalu mengambil waktu sejenak untuk rileks. “Nggak usah lama-lama, 10 menit aja. Cari tempat sepi, tarik napas dalam-dalam, baru lanjut lagi,” katanya. Menurutnya, ini penting biar nggak gegabah ngambil keputusan yang salah.

Tapi yang paling penting, Jon selalu bilang kunci utama adalah komunikasi yang jujur tapi diplomatis. “Lu harus bisa bilang ‘tidak’ tanpa bikin orang lain merasa ditolak,” jelasnya. Misalnya, ketika founder minta anggaran besar untuk marketing tapi kondisi keuangan lagi ketat, Jon akan jelasin dengan data dan alternatif solusi. “Jangan langsung bilang ‘nggak bisa’. Bilang aja ‘bisa, tapi dengan syarat ini ini’. Biar mereka merasa tetap diajak berdiskusi.”

Belajar dari Kesalahan

Jon juga nggak malu ngakuin kalau dia pernah melakukan kesalahan. “Pernah waktu itu aku terlalu fokus ngurangin burn rate sampai akhirnya perusahaan kehilangan momentum,” kenangnya. Tapi dari situ, dia belajar bahwa jadi CFO itu bukan sekadar memangkas pengeluaran. “Lu harus bisa seimbangin antara hemat sama growth. Nggak bisa salah satu doang.”

Menurut Jon, pengalaman ini yang membuatnya lebih bijak dalam mengambil keputusan. Sekarang, dia selalu pertimbangkan segala aspek sebelum bilang ‘iya’ atau ‘tidak’. “CFO itu tugasnya bukan cuma ngejar profit, tapi juga memastikan perusahaan bisa survive dalam jangka panjang,” tegasnya.

Buah dari pendekatan Jon adalah kepercayaan yang tinggi dari berbagai pihak. Founder merasa nyaman karena Jon selalu siap dengan solusi. Investor pun merasa aman karena keuangan perusahaan selalu terkendali. Dan karyawan? Mereka bisa lebih fokus bekerja karena tahu perusahaan punya pondasi keuangan yang kuat.

Jadi, kalau ada yang bertanya apa resep sukses Jon Macy sebagai CFO, jawabannya sederhana: ketahanan mental, persiapan matang, dan komunikasi yang efektif. Nggak perlu jadi superman, tapi ya harus siap jadi orang yang paling tegar saat situasi paling genting sekalipun.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *